Memuat...

1 Okt 2012

ASMA

Normal adn astmatic bronchiole
Penyakit asma adalah peradangan kronis saluran udara  yang menuju ke paru-paru (bronkus). Jika Anda memiliki asma, saluran udara Anda ekstra-sensitif. Saluran udara yang ekstra-sensitif itu dapat meradang, bengkak dan berlendir bila dipicu oleh kondisi tertentu. Otot-otot di sekitar saluran udara juga mengejang dan menciut, mengalami apa yang disebut bronkospasma. Saluran udara yang menyempit oleh peradangan, lendir dan bronkospasma itu membuat Anda mengalami sesak napas, sesak dada, mengi (napas berbunyi) dan batuk yang kadang-kadang disertai lendir.
Sesak napas berlangsung selama suatu periode atau selama beraktivitas fisik. Serangan asma dapat memiliki intensitas kuat atau lemah dan dapat menghilang untuk waktu yang lama sebelum timbul lagi. Serangan asma yang parah dapat menimbulkan kondisi yang disebut status asmatikus, yang ditandai oleh warna kulit kebiruan, nafas tersengal, dada menggembung dengan bahu terangkat, lemas, kebingungan dan kegelisahan, cemas dan takikardia (denyut jantung cepat). Tanda-tanda itu disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen ke dalam tubuh. Seorang pasien dalam status asmatikus harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Pemicu Asma
Serangan asma dapat dipicu oleh alergi atau non-alergi. Sebagian besar kasus asma dipicu oleh alergi (70-80%). Asma alergi disebabkan oleh reaksi autoimun yang berlebihan. Alergi terhadap bulu hewan,tungau, debu, udara dingin, atau serbuk sari dapat memicu serangan asma. Pada 20-30% kasus lainnya, serangan asma dipicu oleh reaksi non-alergi dan disebut asma intrinsik. Asma jenis ini tidak melibatkan sistem imun tubuh dan biasanya dimulai di usia dewasa. Olahraga, asap rokok, parfum, asap knalpot, kabut, makanan, stress, infeksi pernapasan (seperti flu dan pilek) dan obat-obatan tertentu dapat memicu serangan asma intrinsik.
Asma memengaruhi segala usia dan merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum. Asma alergik lebih umum di usia anak-anak, dan umumnya menghilang di usia dewasa. Asma secara umum lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, kecuali di usia muda, yang lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Penyebab

Penyebab asma tidak diketahui. Faktor genetik dan pengaruh lingkungan turut berperan dalam perkembangan penyakit tersebut. Beberapa hal berikut dapat meningkatkan risiko Anda memiliki asma:
  • Riwayat keluarga. Jika salah satu orangtua Anda memiliki asma atau alergi rhinitis, ada 50% kemungkinan Anda mendapatkan asma. Jika kedua orang tua Anda memilikinya, kemungkinannya meningkat menjadi 75%.
  • Polusi udara. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang tinggal di dekat jalan raya utama dan tempat tercemar lainnya lebih berisiko mendapatkan asma.
  • Pekerjaan tertentu. Sekitar 10% penderita asma mendapatkannya dari pekerjaan. Kondisi ini disebut asma kerja. Beberapa contohnya antara lain:
    • Pekerja laboratorium bisa mendapatkan asma dari binatang laboratorium (tikus dan kelinci percobaan)
    • Pelukis semprot bisa mendapatkan asma dari zat isosianat
    • Petugas kebersihan bisa mendapatkan asma dari butir debu
    • Pemroses kepiting bisa mendapatkan asma dari debu kepiting
  • Memiliki ibu atau ayah merokok saat Anda masih dalam kandungan.

Pengobatan

Penanganan terbaik asma adalah pencegahan keluhan. Oleh karena itu, penting untuk menghindari rangsangan asma.
Asma tidak dapat disembuhkan, tapi beberapa jenis obat dapat membantu untuk mengontrol dan meringankan gejalanya. Obat-obatan asma dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu obat pereda, pencegah, pengontrol gejala. Kebanyakan obat asma diberikan dengan perangkat inhalasi/inhaler, meskipun ada beberapa jenis yang disediakan dalam bentuk tablet, sirup dan suntikan.

1. Obat pereda
Obat pereda memberikan bantuan segera dari serangan asma. Jenis obat pereda antara lain adalah salbutamol, terbutalin, bambuterol, fenoterol dan formeterol. Mereka dikenal sebagai bronkodilator yang bekerja membuka saluran udara sehingga membuat Anda bernapas lebih lega. Secara umum, obat pereda harus digunakan hanya saat terjadi serangan asma. Jika Anda perlu menggunakan obat pereda lebih dari 3-4 kali seminggu, Anda harus berbicara dengan dokter Anda, karena hal itu menunjukkan asma Anda tidak terkontrol dengan baik.

2. Obat pencegah
Obat pencegah membuat saluran udara kurang sensitif terhadap pemicu dan mengurangi pembengkakan dan peradangan saluran udara sehingga menurunkan insiden dan keparahan serangan asma. Jenis utama obat pencegah asma adalah kortikosteroid, seperti beklometason, budesonid, dan flutikason. Obat-obatan ini tidak digunakan untuk mengurangi serangan asma akut. Pasien asma dianjurkan mengambilnya setiap hari dengan inhaler. Obat-obatan ini tidak dapat menyembuhkan asma sehingga gejala asma dapat kembali timbul dalam beberapa hari atau minggu setelah penghentian obat.
Seperti halnya obat lain, kortikosteroid memiliki potensi efek samping. Penggunaan jangka panjang kortikosteroid dosis tinggi dapat mengakibatkan jumlah signifikan obat yang terserap ke dalam aliran darah. Hal ini dapat meningkatkan risiko osteoporosis, katarak, mudah memar, hambatan pertumbuhan, gangguan saraf pusat dan gangguan mental. Pengambilan kortikosteroid secara inhalasi lebih kecil efek sampingnya dibandingkan obat oral karena diberikan dalam dosis kecil secara langsung ke saluran pernafasan. Oleh karena itu, obat kortikosteroid oral biasanya hanya diberikan dalam periode singkat bila obat inhalasi kurang efektif untuk mencegah asma Anda.

3. Obat pengontrol
Obat pengontrol berguna jika asma masih tidak terkontrol meskipun telah mengambil obat pencegah. Contoh obat pengontrol adalah salmeterol dan eformoterol. Obat-obatan ini dapat menjaga saluran udara terbuka sampai 12 jam setelah pengambilan. Obat pengontrol tidak mengobati peradangan sehingga harus digunakan bersamaan dengan obat pencegah. Beberapa produk asma berisi kombinasi pencegah dan pengontrol gejala. Obat-obatan itu diminum setiap hari dan tidak boleh diambil untuk mengelola serangan asma.
 

Sumber: http://majalahkesehatan.com/sekilas-tentang-penyakit-asma/