Memuat...

26 Jul 2012

CATATAN UNTUK BLOG majelisrasulullah.org : Untukmu yang Belum Tahu Tentang Siapa Sebenarnya Habib Mundzir…?



Oleh: Abu Ibrahim ‘Abdullah Bin Mudakir

Siapa yang tidak kenal dengan Habib Mundzir Al-Musawa dengan majelis Rasulullahnya?,  sebagian orang (orang-orang awam yang jauh dari ilmu syar’i), orang-orang yang fanatik, dan orang-orang yang tersesat menganggapnya sebagai seorang yang memiliki ilmu atau bahkan seorang ulama. Namun bagi mereka yang sedikit saja mempunyai ilmu dan pemahaman agama yang baik dan benar maka dengan mudah dan jelas dapat menilai siapa Habib Mundzir sebenarnya. Namun karena begitu besar fitnah yang dibawa oleh Habib Mundzir maka dari itu kami merasa terpanggil untuk menjelaskan kepada ummat tentang siapa sebenarnya Habib Mundzir dalam rangka nasihat kepada ummat.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran : 104)
dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».
“Ad-Din (agama) adalah nasehat. Kami bertanya : untuk siapa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin serta seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad-Daarii)
Insya Allah di bawah ini penjelasan sederhana tentang penyimpangan dan kesesatan Habib Mundzir :

Pertama : Kebodohan dan penyelisihan Habib Mundzir terhadap makna dan hakekat tauhid
Bagaimana mungkin seorang yang dianggap sebagai seorang yang memiliki ilmu atau bahkan seorang ulama oleh para pengikutnya ternyata seorang yang bodoh terlebih lagi dalam masalah tauhid, yang merupakan pondasi agama kita dan inti  dakwah para Rasul. Hal ini diketahui dari sepak terjang Habib Mundzir, dari perkataannya, dari ceramah-ceramahnya dan dari perbuatan dan amalannya. Di sisi Habib Mundzir tauhid adalah tauhid yang orang musyrik zaman dahulu pun menyakininya yaitu sebatas pada tauhid Rububiyyah yaitu tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada yang pemberi rezeki selain Allah dan tidak ada yang mengatur alam semesta ini selain Allah.
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman mengkhabarkan bahwa orang musyrik pun mengimani hal ini :
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ المَيِّتِ وَيُخْرِجُ المَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ
Katakanlah: ” Siapakah yang melimpahkan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus : 31).
Berkata Ibnu Katsir Rahimahullah :
{ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ } أي: هم يعلمون ذلك ويعترفون به، { فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ } أي: أفلا تخافون منه أن تعبدوا معه غيره بآرائكم وجهلكم؟
(Maka mereka akan menjawab: “Allah”). Yaitu mereka mengetahui dan mengakui yang demikian itu (Allah sebagai pencipta, pemberi rezki dll –ed), “(Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” yaitu kenapa kalian tidak takut kepada-Nya yang kalian beribadah bersama-Nya yang lainnya dengan pendapat-pendapat kalian dan dengan kebodohan kalian.” (Tafsir Ibnu Katsier, Jilid 4 hal 287, cet. Daarul Hadits Al-Qaahirah)
Berkata salah seorang ulama ahlussunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al-Whusoby hafidzahullah  :
ولم ينكر هذا القسم أحد إلا فرعون والنمرود والدهرية قديما والشيوعية حديثا, والمنكر له يعتبر كافرا ملحدا
“ Tidak ada yang mengingkari tauhid dengan jenis ini (tauhid rububiyyah) kecuali fir’aun, namrud, Ad-Duhriyah di masa lalu dan komunis di masa kini. Orang yang mengingkari jenis ini terhitung kafir mulhid (atheis).” (Al-Qaulul Mufiid Fi Adilatit Tauhid : 78, Cet. Maktabah Al-Irtsaad, Shan’a Yaman)
Dan hal ini (keimanan/pengakuan terhadap tauhid rububiyyah) semata tidaklah cukup sampai seseorang mentauhidkan Allah di dalam beribadah. Yaitu seseorang tidaklah beribadah kecuali hanya kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya. Dia menyerahkan seluruh ibadahnya hanya kepada Allah Subhaanahu wata’aala dan tidak kepada yang lainnya. Shalatnya, doanya, menyembelih hewannya, tawakalnya dan seluruh ibadahnya hanya dia peruntukkan kepada Allah semata dan tidak kepada yang lainnya siapapun orangnya. Namun Habib Mundzir bodoh terhadap hal ini (yaitu memahami tauhid uluhiyyah/ibadah). Sehingga dia menolak untuk di ajak beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah, tetapi yang dia inginkan selain beribadah kepada Allah juga beribadah kepada orang shalih, baik itu nabi atau yang lainnya yang mereka anggap wali (1). Mereka menolak untuk diajak  bersandar dan bertawakal hanya kepada Allah semata tetapi yang mereka inginkan bersandar dan bertawakal kepada Allah dan juga bersandar dan bertawakal kepada kuburan-kuburan yang mereka anggap wali.  Padahal Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Berkata salah seorang ulama Yaman serta ulamanya kaum muslimin, Al-Imam Shan’ani Rahimahullah :
“ Segala puji bagi Allah yang tidak menerima tauhid rububiyyah dari hamba-Nya, sampai mereka mentauhidkan-Nya dalam ibadah dengan seluruh bentuk pengesaan (penyerahan ibadah hanya kepada-Nya). Sehingga mereka tidak mengambil tandingan bagi Allah, tidak menyeru (berdoa) bersama Allah siapapun, tidak bersandar kecuali kepada-Nya, tidak berlindung pada setiap keadaan kecuali hanya kepada-Nya, tidak berdoa kepada-Nya dengan selain dari asmaul husna (nama-nama yang indah) dan tidak bertawasul kepada-Nya dengan perantaraan pemberi syafaat.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلّا بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya (Qs. Al-Baqarah : 255)

Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah, satu-satunya Rabb dan sesembahan yang haq, dan muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang Allah perintah untuk mengatakan :
   قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ
“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. “ (Qs. Al-A’raf : 188). (Kitab Tah-hirul I’tiqad ‘An Adranil Ilhad : 22)
Berkata Syaikh Al-Allamah Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah :
وهذا القسم كفر به وجحده أكثر الخلق
“ Macam tauhid ini (tauhid uluhiyyah/ibadah -ed) yang kebanyakan manusia mengingkari dan menolaknya.” (Al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitabit Tauhid : 12, Cet. Dar Ibnul Jauzi)
Berkata salah seorang ulama ahlussunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab Al-Whusoby hafidzahullah  :
والذي أنكروا هذا القسم هم المشركون قديما والقبوريون حديثا
 “Orang-orang yang mengingkari tauhid jenis ini (tauhid uluhiyyah/ibadah –ed) adalah orang-orang musyrik pada zaman dahulu dan para penyembah kuburan pada masa sekarang.” (Al-Qaulul Mufiid Fii Adilatit Tauhid : 80, Cet. Maktabah Al-Irtsaad, Shan’a Yaman).
Bersambung insya Allah pada penyimpangan dan kesesatan berikutnya….
 _______________ 
Catatan
(1)   Diantara sekian banyak bukti dari apa yang kami sampaikan adalah perkataan Habib Mundzir berikut ini, Habib Munzir menyatakan pada bukunya “Meniti Kesempurnaan Iman” (pada halaman 4-5): “Istighatsah adalah memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya, untuk sebagian kelompok muslimin hal ini langsung di vonis syirik, namun vonis mereka itu hanyalah karena kedangkalan pemahamannya terhadap syariah islam, Pada hakekatnya memanggil nama seseorang untuk meminta pertolongannya adalah hal yang diperbolehkan selama ia seorang Muslim, Mukmin, Shalih dan diyakini mempunyai manzilah di sisi Allah swt, tak pula terikat ia masih hidup atau telah wafat…” (sampai di sini penukilannya)

Bantahannya
Wahai Habib Mundzir, doa itu adalah ibadah, tidak boleh dipalingkan untuk selain Allah. Dan diantara bentuk doa adalah istighatsah (memohon pertolongan setelah terjadinya musibah). Jika dipalingkan kepada orang mati maka mutlak bentuk kesyirikan akbar. Siapapun orang mati yang ditujukan doa kepadanya.
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kapada Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Qs. Al-Mu’min : 60)
Berkata Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Qaasim An-Najdi Rahimahullah : “ Dinamakan (pada ayat ini) doa adalah ibadah, dan datang dalam Al-Qur’an dalam banyak tempat (ayat) bahwasanya doa adalah ibadah, maka memalingkannya kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikkan akbar (besar).” (Haasiyah Tsalasatul Ushuul : 36)
Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman :
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
 “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (Qs. Al-Anfal : 9)

Berkata Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Qaasim An-Najdi Rahimahullah
“ Ditunjukkan pada ayat (ini) bahwasanya istighatsah adalah ibadah, maka apabila dipalingkan kepada selain Allah merupakan perbuatan kesyirikan.” (Haasiyah Tsalasatul Ushuul : 36)
Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasululloh shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
الدعاء هو العبادة
” Doa adalah ibadah.” (HR. Bukhari di dalam adabul mufrod dishahihkan oleh Syaikh Muqbil di Shahihul musnad mima laysa fi shohihain)
Berkata Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Bin Baaz RahimahullahAdapun berdoa kepada orang mati,  atau yang tidak hadir di hadapannya yang tidak mendengar ucapanmu, atau berdoa kepada patung, atau jin atau pohon  dan yang selainnya  maka ini perbuatan syirik orang musyrik ” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul : 14)

http://membantahquburi.wordpress.com/  

Penyimpangan Kedua: Kebodohan dan Penyimpangan Habib Mundzir Terhadap Tauhid Asma’ wa Sifat dan Menyandarkan Penyimpangannya Kepada Pemahaman Salaf adalah Sebuah Kedustaan darinya.

Di antara kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Habib Mundzir Al-Musawa adalah dalam masalah tauhid asma wa sifat. Namun sebelum lebih jauh menjelaskan kesesatan dan penyimpangan Habib Mundzir dalam masalah tauhid asma’ wa sifat, maka alangkah baiknya kita memulai dengan menjelaskan makna tauhid dan macam-macamnya secara ringkas.
Tauhid adalah Mentauhidkan Allah dengan apa-apa yang merupakan kekhususan bagi Allah, di dalam Rububiyah-Nya, Uluhiyah-Nya dan Asma’ wa Sifat-Nya. (Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid , Syaikh Ibnu Utsaimin : 11 dan Syarh Kasyfisy Syubhaat, Syaikh Ibnu Utsaimin : 21)
Para ulama membagi tauhid  menjadi tiga macam berdasarkan penelitian dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah
Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan-Nya. Yaitu mengilmui dan meyakini bahwa Allah sematalah yang mencipta, memberi rizki dan mengatur alam semesta ini.
Dalilnya firman Allah Ta’aala :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:  “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.  (QS. Al-Fatihah : 2)
Tauhid Uluhiyyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan hamba, yaitu dengan beribadah hanya kepada Allah semata yang tidak ada sekutu baginya dengan seluruh macam-macam ibadah.
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)
Tauhid Asma wa Sifat yaitu mentauhidkan Allah Subhaanahu wa ta’aala dengan menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tetapkan untuk Allah, dengan tanpa tahrif (menyelewengkan makna yang benar ke makna yang tidak benar), dengan tanpa ta’thil (menolaknya) dengan tanpa takyif (menghayalkan bagaimana sifat Allah) dan dengan tanpa tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
 Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. As-Syura : 11)
(Silahkan lihat penjelasan pembagian tauhid menjadi tiga beserta penjelasannya di kitab-kitab syarh para ulama terhadap kitab tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dan syarh matan-matan aqidah)
Aqidah yang benar tentang tauhid asma wa sifat sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya di atas. Berikut ini sebagai tambahan penjelasan dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah :
وَمِنْ الْإِيمَانِ بِاَللَّهِ : الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ : { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } . فَلَا يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَلَا يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَآيَاتِهِ وَلَا يُكَيِّفُونَ وَلَا يُمَثِّلُونَ صِفَاتِهِ بِصِفَاتِ خَلْقِهِ لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا سَمِيَّ لَهُ وَلَا كُفُوَ لَهُ وَلَا نِدَّ لَهُ وَلَا يُقَاسُ بِخَلْقِهِ – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَيْرِهِ وَأَصْدَقُ قِيلًا وَأَحْسَنُ حَدِيثًا مِنْ خَلْقِهِ ثُمَّ رُسُلُهُ صَادِقُونَ مَصْدُوقُونَ
“Dan bagian dari beriman kepada Allah adalah beriman  dengan sifat – sifat yang Allah sifati diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya,  dengan tanpa tahrif (menyelewengkan makna yang haq (benar) kepada makna yang tidak benar), dengan tanpa ta’thil (menolaknya), dengan tanpa takyif (menghayalkan sifat Allah) dengan tanpa tamtsiil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Bahkan beriman bahwasanya Allah Ta’aala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As-Samii’ (Maha Mendengar) dan Al-Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11)
 Janganlah kalian menolak untuk-Nya sifat-sifat yang Allah mensifati diri-Nya sendiri, janganlah kalian memalingkan ayat tentang sifat Allah dari maksud sebenarnya, janganlah kalian berpaling dari nama-nama Allah dan ayat-Nya, janganlah kalian menyamakan sifat-sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya, dikarenakan Dia, yang Maha Suci bagi-Nya, tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada tandingan bagi-Nya, dan tidak diqiaskan Dia dengan makhluq-Nya, Maha Suci Allah Ta’aala, dikarenakan Dia, Maha Suci bagi-Nya lebih mengetahui diri-Nya sendiri dari selain-Nya, dan yang paling jujur perkataannya serta paling baik ucapannya dari makhluk-Nya kemudian Rasul-Nya adalah orang yang benar lagi dibenarkan.” (Matan Aqidah Al Wasithiyah)
Adapun yang ditempuh oleh Habib Mundzir adalah jalannya orang-orang sesat lagi menyimpang,  jalan-Nya orang-orang yang tidak beradab kepada Allah dengan menolak, menyelewengkan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat kepada makna yang tidak diinginkan Allah dan Rasul-Nya.
Perlu diketahui bahwasanya manusia terkelompokkan menjadi tiga kelompok ditinjau dari aqidah mereka  tentang tauhid asma’ wa sifat.
Pertama : Ahlul haq (orang-orang yang berada di atas kebenaran), orang-orang yang Allah beri petunjuk, mereka adalah ahlu sunnah wal jama’ah yaitu mereka mengimani dengan menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Kedua: Orang-orang sesat lagi menyimpang dari musyabihah (orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk-Nya).
Ketiga:  orang-orang sesat dari mu’athilah (orang yang menolak sifat-sifat Allah) yang mereka terbagi menjadi beberapa kelompok :
  1. Mereka yang menolak seluruh nama-nama Allah dan sifat-Nya seperti  kelompok Jahmiyah.
  2. Mereka yang menetapkan nama-nama Allah dan menolak seluruh sifat-sifat Allah seperti kelompok Mu’tazilah.
  3. Mereka yang menolak sebagian sifat Allah dan menetapkan nama-nama Allah, seperti kelompok Asy-Sya’irah, Al-Maturidiyah dan yang sepemahaman dengannya. Dan Habib Mundzir menempuh jalan sesat ini (hal ini diketahui dari ceramah dan tulisan-tulisannya, di antaranya apa yang ada di bukunya yang berjudul “Aqidahku 2”). Dan penolakan mereka dengan jalan melakukan takwil (menyelewengkan makna yang benar tentang sifat Allah ke makna yang tidak benar).
Berikut ini di antara perkataan Habib Mundzir yang menunjukkan penyimpangannya terhadap tauhid asma’ wa sifat.
Berkata Habib Munzir :
“Madzhab Takwil ayat atau hadist tasybih sesuai dengan ke-Esaan Allah dan keagungan Allah swt, dan pendapat ini lebih arjah (lebih baik untuk di ikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaan (khayalan dan wasangka) pada kaum muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syaf’i, Imam Bukhari, Imam Nawawi dll.” (dinukil dari buku “Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)
Dan Habib Mundzir berkata lagi :
“Dan banyak para shahabat, tabi’in dan para Imam Ahlussunnah waljama’ah yang berpegang dengan pendapat takwil, seperti Imam Ibnu Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidzy, Imam Abul Hasan Al-Asyariy, Imam Ibnul Jauziy dll.” (dari buku Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)
Lihatlah wahai para pembaca budiman, tentang pendapat, keyakinan dan aqidah sesat Habib Mundzir yang berpegang kepada mazhab sesat takwil, menolak sifat Allah dengan jalan mentakwil/menyelewengkan makna yang haq dari sifat Allah kepada makna yang tidak benar. Bahkan dia sandarkan kesesatannya itu kepada para shahabat, tabi’in dan Imam Syafi’i dan Imam Ahlussunnah yang lainnya. Jelas hal ini adalah sebuah KEBODOHAN DAN KEDUSTAAN HABIB MUNDZIR ATAS MEREKA.
Para pembaca budiman saya mengajak Anda untuk memperhatikan lebih seksama karena kita akan membantah kedustaan Habib Mundzir dengan apa yang dia katakan di  atas.
Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa ahlus sunnah wal jama’ah mereka beriman kepada seluruh nama-nama dan sifat-sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sifatkan untuk Allah dengan tanpa takwil (yaitu menyelewengkan makna  yang benar kepada makna yang tidak benar) dan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makluk-Nya. Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11).
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al Fauzan Hafidzahullaah :
هذه الأية ميزان لأهل الحق ترد على المعطلة وترد على المشبهة, وتسبت لله الأسماء والصفات من غيرتعطيل ومن غير تشبيه, (  لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ    ) هذا رد على المشبهة الذين غلوا في الإثبات (  وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ  )  هذا رد على المعطلة الذين غلوا في التنزيه حتى نفوا أسماء الله صفاته فرارا من الثشبيه عندهم, فوقعوا في تشبيه  أشر مما فروا منه وهو أنهم شبهوا الله بالمعدومات و الممتنعات.
“Ayat ini adalah miizan (timbangan) bagi ahlu haq (orang – orang yang berada di atas kebenaran) yang membantah mu’athilah dan musyabihah. Ditetapkan nama-nama dan sifat-sifat untuk Allah dengan tanpa ta’thil (menolak sifat-sifat Allah -ed) dan dengan tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya -ed). Ayat ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ  “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”) ini adalah bantahan bagi musyabihah yang berlebih-lebihan dalam menetapkan. Ayat  (وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ,  “dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat)” ) ini bantahan bagi mu’athilah yang berlebihan dalam tanziih (mensucikan) sampai menolak nama-nama Allah dan sifat-sifat Allah, mereka lari dari tasybih (menyerupakan) menurut anggapan mereka justru malah terjatuh kepada tasybih (menyerupakan) yang lebih jelek dari apa yang mereka lari darinya, yaitu mereka menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau tidak mungkin ada.“ (Syarh Lum’atil I’tiqaad Syaikh Shalih Al-Fauzaan, hal 90)
Benarkah takwil terhadap sifat Allah jalannya para shahabat, tabi’in dan para imam Ahlus sunnah wal jama’ah di antaranya Al-Imam Syafi’i rahimahullah. Atau hal ini merupakan sebuah kedustaan atas mereka yang dikatakan oleh Habib Munzir…?
Berikut ini penjelasannya :
Pada kesempatan ini saya hanya membawakan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullaah. Untuk menjelaskan kedustaan Habib Mundzir terhadap apa yang dia katakan diatas. 
قال الإمام أبو عبد الله محمد بن إدريس الشافعي  : آمنت بالله وبما جاء عن الله ، على مراد الله ، وآمنت
برسول الله ، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
Berkata Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i)  Rahimahullaah :
“Aku beriman kepada Allah dan kepada semua perkara yang berasal dari Allah, di atas apa yang Allah maksudkan. Dan aku juga beriman kepada Rasullullah dan apa yang datang dari Rasulullah di atas apa yang Rasulullah maksudkan.”
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan kepada kita tentang makna perkataan Al-Imam Syafi’i rahimahullah. Beliau berkata :
“ما تضمنه كلام الإمام الشافعي”
تضمن كلام الإمام الشافعي ما يأتي:
1- الإيمان بما جاء عن الله تعالى في كتابه المبين على ما أراده الله من غير زيادة، ولا نقص، ولا تحريف.
2- الإيمان بما جاء عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، في سنة رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، على ما أراده رسول الله، صلى الله عليه وسلم ، من غير زيادة ولا نقص ولا تحريف.
وفي هذا الكلام رد على أهل التأويل، وأهل التمثيل، لأن كل واحد منهم لم يؤمن بما جاء عن الله ورسوله على مراد الله ورسوله فإن أهل التأويل نقصوا، وأهل التمثيل زادوا.
Kandungan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i adalah sebagai berikut :
  1. Beriman dengan perkara yang berasal dari Allah Ta’aala dalam kitab-Nya yang jelas sesuai dengan apa yang Allah maksudkan, tanpa memberi tambahan, tanpa pengurangan dan tanpa menyimpangkannya.
  2. Beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam sunnahnya sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maksudkan, tanpa memberi tambahan, tanpa pengurangan dan tanpa menyimpangkannya.
Dan pada perkataan beliau (Al-Imam Syafi’i) di atas terdapat bantahan bagi ahlu takwil (para pentakwil/orang yang menyelewengkan makna yang benar tentang sifat Allah ke makna yang tidak benar -ed) dan ahlu tamtsil (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluknya) dikarenakan masing-masing dari mereka tidak beriman kepada apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dan di atas apa yang Allah dan Rasul-Nya maksudkan. Sesungguhnya para pentakwil adalah orang-orang yang mengurangi sifat Allah (makna yang benar dihilangkan atau dikurangi-ed). Sedangkan para pentamtsil adalah orang-orang yang telah menambah.” (Lum’atul I’tiqad, Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : 37, Ad-Waa’us Salaf)
Lihat wahai para pembaca budiman kedustaan Habib Mundzir atas Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah dengan mengatakan Al-Imam As-Syafi’i  menempuh jalan takwil dalam masalah asma wa sifat. !! padahal hakekatnya sebaliknya justru Al-Imam As-Syafi’i malah membantah orang-orang yang melakukan takwil dalam asma wasifat..!! Itulah Habib Mundzir seorang pendusta.
Perhatikan juga perkataan Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah berikut ini sebagai penjelasan tambahan bagi kita semua atas kedustaan Habib Mundzir dengan perkataannya di atas. Berkata Al-Imam Syafi’i Rahimahullaah :
لله تغالى أسماء وصفات لايسع أحدا قامت عليه الحجة ردها, فإن خلف بعد ثبوت الحجة عليه فهو كافر فأم قبل ثبوت الحجة عليه فمعذور بالجهل, لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل, ولابالروية والفكر, ويثبت هذه الصفات وينفي عنها التسبيه كما نفى عن نفسه ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ)
“Bagi Allah Ta’aala mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang tidak boleh seorang pun yang telah tegak hujjah atasnya untuk menolaknya, jika dia menyelisihi setelah tetapnya (tegaknya) hujjah maka dia seorang kafir ada pun sebelum tetapnya (tegaknya) hujjah  maka dia diberi udzur atas kebodohannya. Dikarenakan ilmu tentang hal itu (nama-nama dan sifat Allah –ed) tidaklah didapatkan dengan akal, tidak juga dengan pemikiran dan tidak juga dengan pendapat. Ditetapkan sifat-sifat ini dan ditiadakan dari tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) sebagaimana Allah menafikan (meniadakan) hal itu (tasybih) dari-Nya.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat).” (Qs. Asy Syura : 11). (Silahkan meruju’ dalam Kitab Mukhtashar Al-‘Uluw, Syaikh Al-Albani : 177 dan Ijtimaaul Juyyus Al-Islmiyyah, Ibnul Qayyim : 59 – Tahqiq Lum’atul I’tiqad Syarh Syaikh Ibnu Utsaimin :  37, Penerbit Adwaa’us Salaf)
Kami mencukupkan hanya membawakan perkataan Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah untuk menjelaskan kedustaan Habib Mundzir dan tidak membawakan perkataan ulama dan imam ahlussunnah yang lainnya yang Habib Mundzir sebutkan sebagiannya agar tidak memperpanjang risalah ini.
Dan berikut ini penjelasan tentang kedustaan Habib Mundzir atas nama para shahabat dan tabi’in.
Yang pertama kami nukilkan kembali perkataan Habib Mundzir :
“Dan banyak para shahabat, tabi’in dan para Imam Ahlussunnah waljama’ah yang berpegang dengan pendapat takwil, seperti Imam Ibnu Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidzy, Imam Abul Hasan Al-Asyariy, Imam Ibnul Jauziy dll.” (dari buku “Aqidahku 2 Penulis Habib Mundzir, hal 25-26)
Berikut ini penjelasan kedustaannya, dengan membawakan perkataan para ulama kibar ahlus sunnah wal jama’ah
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah:
الذي درج عليه السلف في الصفات هو الإقرار والإثبات لما ورد من صفات الله تعالى في كتاب الله وسنة رسوله ، صلى الله عليه وسلم ، من غير تعرض لتأويله بما لا يتفق مع مراد الله ورسوله
“Yang ditempuh oleh para salaf (generasi shahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in –ed) dalam masalah sifat Allah adalah mengakui, membiarkan apa adanya, dan menetapkan segala yang datang dalam permasalahan sifat Allah dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya tanpa melakukan upaya-upaya pentakwilan yang tidak sesuai dengan maksud Allah dan Rasul-Nya.” (Lum’atul I’tiqad Syarh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin : 38)
Berkata Asy-Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan Hafidzahullah:
Tentang perkataan ini yaitu beriman kepada apa yang berasal dari Allah sesuai dengan apa yang Allah maksudkan (tidak melakukan takwil –ed) dan beriman kepada apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maksudkan (tidak melakukan takwil –ed), ini adalah jalan yang ditempuh oleh para salaf, mereka adalah pemimpin umat ini, dari kalangan para shahabat, tabi’in dan atba tabi’iin generasi yang memiliki keutamaan, tidak seorang pun dari mereka yang tidak berpendapat seperti ini. Mereka membaca Al-Qur’an dan meriwayatkan hadits-hadits dan tidak mendapatkan pertentangan sesuatu pun dari hal ini. Telah lewat generasi yang memiliki keutamaan, mereka tidak mendapatkan pertentangan pada ayat-ayat dan hadits-hadits ini. Dan muncul pertentangan setelah habis generasi yang memiliki keutamaan, ketika datang (muncul) ulama-ulama kalam dan filsafat  mereka memasukkan ke dalam agama apa yang bukan bagian darinya, mereka berhukum dengan kaidah-kaidah mantiq dan penjelasan akal –sebagaimana yang mereka namakan- dan menjadikan hal itu sebagai hakim bagi kitabullah dan sunnah Rasulullah.”  (Syarh Lum’atil I’tiqaad Syaikh Shalih Al-Fauzaan, hal 90. Darul Atsariyah)
Berkata Syaikh Al Allamah Shalih Abdul Aziz Alu Syaikh :
Jadi pada zaman shahabat belum terjadi takwil dan belum terjadi perselisihan dalam aqidah, dan begitu juga pada zaman tabi’in (generasi setelah shahabat) sampai muncul pada akhir zaman tabi’in kesesatan-kesesatan yang nampak bersamaan dengan kelompok-kelompok dari khawarij kemudian mu’tazilah kemudian tersebar pada umat. Dan hal ini menunjukkan kepada kamu bahwasanya takwil dan penyelisihan terhadap nash-nash (dalil Al Qur’an dan Sunnah); di dalam kewajiban penerimaan terhadap nash-nash. Bahwasanya hal itu (takwil dan penyelisihan terhadap nash-nash) termasuk perkara bid’ah dan perkara muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan perbuatan bid’ah dan muhdats adalah perbuatan yang tertolak. (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda):
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara yang baru di dalam urusan (agama) kami ini apa yang tidak termasuk di dalamnya maka amalannya tertolak.“
Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini (agama kami –ed) dalam perkara-perkara ilmiyah yang bukan bagian darinya maka tertolak –yaitu tertolak atas pelakunya-. Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini dalam perkara-perkara amaliyah yang bukan bagian darinya maka tertolak –yaitu tertolak atas pelakunya-. Dan hal ini masuk dalam perkara bid’ah dalam perkara ilmiyyah (ilmu) dan amaliyah (amal), dan hal ini sebagimana akan datang perkataan Ibnu Mas’ud di mana beliau berkata :
 اتبعوا ولا تبتدعوا فقد كفيتم
“Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah tercukupi (dalam perkara agama –ed).”  (Syarh Lum’atil I’tiqad Syaikh Al-Allamah Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hal : 20. Daa’rul Atsar)
Lihatlah wahai Habib Mundzir, para shahabat menempuh jalan tentang asma’ (nama-nama) dan sifat Allah dengan beriman kepada seluruh nama-nama dan sifat – sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sifatkan untuk Allah dengan tanpa takwil (menyelewengkan makna yang benar ke makna yang tidak benar) dan dengan tanpa tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia As Samii’ (Maha Mendengar) dan Al Bashiir (Maha Melihat.)”
Bukan seperti apa yang engkau katakan…!!!
Sungguh telah jelaslah yang benar sebagai sebuah kebenaran yang bathil sebagai sebuah kebathilan. Yang jujur sebagai sebuah kejujuran yang dusta sebagai sebuah kedustaan. Semoga Allah Ta’aala menjadikan kita sebagai orang yang mengikuti jalan kebenaran dan istiqamah di atasnya. Dan melindungi kita dan kaum muslimin dari jalan kebathilan dan orang yang menyeru kepadanya.

Ditulis oleh Abu Ibrahim ‘Abullah Al-Jakarty

http://membantahquburi.wordpress.com/2012/08/17/penyimpangan-kedua-kebodohan-dan-penyimpangan-habib-mundzir-terhadap-tauhid-asma-wa-sifat-dan-menyandarkan-penyimpangannya-kepada-pemahaman-salaf-adalah-sebuah-kedustaan-darinya/