Semua Tentang Isa Alaihis Salam !!! Isa Diangkat oleh Allah dan Akan Turun menjelang Hari Kiamat .

Isa Alaihis Salam Tidak Disalib dan Dibunuh !!!
Termasuk isyarat akan turunnya Isa Alaihis salam adalah berita tentang diangkatnya Nabi Isa Alaihis salam -ruh dan jasadnya- ke langit dalam keadaan masih hidup. Sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (an-Nisaa’: 157-159)

Dalam ayat ini kita mendapatkan beberapa pelajaran penting, diantaranya:
1.             Nabi Isa Alaihis salam tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah angkat kepada-Nya, yakni dari kalimat: -bal rafa’ahullahu ilaihi- yang bermakna “Bahkan Allah angkat kepada-Nya”.

2.             Para ahlul kitab akan beriman kepadanya sebelum kematian Nabi Isa Alaihis salam. Ini merupakan isyarat bahwa Isa Alaihis Salam sebelum meninggalnya akan turun ke dunia dan ahlul kitab akan beriman kepadanya.

Ayat-ayat tentang Turunnya Nabi Isa Alaihis Salam
Diantara tanda-tanda hari Kiamat Kubra adalah turunnya nabi Isa Alaihis salam sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih dan mutawatir.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan tentang turunnya Isa Alaihis salam sebagai tanda datangnya hari kiamat dalam firman-Nya:
Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar sebagai ilmu tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kalian ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (az-Zukhruuf: 57-61)
Ayat terakhir dalam Firman Allah di atas yaitu –wa innahu la’ilmun lissaa’ati-  bermakna “Beliau Alaihis salam  merupakan ilmu tentang hari kiamat”.
Disebutkan dalam Tafsir al-Qurthubi bahwa yang dimaksud adalah turunnya nabi Isa Alaihis salam merupakan ilmu tentang dekatnya hari kiamat. Lebih didukung lagi dengan bacaan yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid dan lain-lain dari para imam ahlut tafsir yaitu –la’alamun-  dengan difathahkan huruf ‘ain dan lam-nya menjadi ‘alamun yang bermakna “tanda” (yang berarti “Isa Alaihis salam sebagai tanda hari kiamat” -pen.). (Tafsir al-Qurthubi (16/ 105); lihat pula Tafsir ath-Thabari (25/90-91))
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya kepada Ibnu Abbas bahwa beliau berkata ketika menafsirkan –la’ilmun lis saa’ati- : “Yang dimaksud adalah keluarnya Isa Alaihis salam sebelum hari kiamat”. (Musnad Imam Ahmad: 4/329 no. hadits 2921 dengan tahqiq Ahmad Syakir dan beliau berkata: “Sanadnya Shahih”)

Hadits Tentang Turunnya Isa Alaihis Salam
Ketika para shahabat sedang duduk-duduk membicarakan tentang hari kiamat, muncullah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepada mereka:  “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Maka para shahabat menjawab:  “Hari Kiamat”.
Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya hari kiamat tidak akan terjadi sehingga terjadinya sepuluh tanda-tandanya. Ditenggelamkannya ke dalam bumi di tiga negeri di timur, barat dan jazirah Arab; munculnya asap, Dajjal, binatang melata di bumi (yang dapat berbicara), Ya’juz dan Ma’juz, terbitnya matahari dari barat, apa yang muncul dari dasar ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya. (Dalam riwayat lain): yang kesepuluh turunnya Isa bin Maryam Alaihi sallam .’ (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawud)
Penjelasan lebih rinci tentang Turunnya Isa Alaihis Salam terdapat dalam hadits-hadits yang shahih, diantaranya:

1. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh akan turun di tengah kalian Ibnu Maryam Alaihis salam sebagai hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi dan menggugurkan jizyah serta membagikan harta hingga tidak ada yang menerimanya seorangpun.
Kemudian Abu Hurairah berkata: “Bacalah oleh kalian –jika kalian mau—ayat: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (an-Nisaa’: 159) (HR. Bukhari Muslim)
Disamping nash yang jelas dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang akan turunnya Isa Alaihis salam, riwayat Abu Hurairah di atas memberikan pelajaran yang sangat penting bagi kita, yaitu tafsir seorang shahabat dan pemahaman salaf terhadap ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat an-Nisaa’ ayat 159 bahwa ahlul kitab akan beriman sebelum hari kiamat adalah ketika turunnya Isa Alaihis salam.
Dengan jelas Abu Hurairah mengatakan bahwa ayat ini mengisyaratkan turunnya Nabi Isa Alaihis salam di akhir zaman menjelang hari kiamat. Sedangkan kita mengetahui bahwa pemahaman para shahabat adalah pemahaman yang paling dekat dengan kebenaran, karena mereka telah mendapatkan rekomendasi dan pujian dari Allah dan Rasul-Nya sebagai umat yang terbaik, golongan yang selamat dan dijamin dengan keridlaan dan surga.
2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Bagaimana kalian jika diturunkan di tengah kalian Ibnu Maryam, sedangkan imam kalian dari kalangan kalian.’ (HR Bukhari dan Muslim).
3. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, beliau mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  Akan tetap ada segolongan umatku yang berperang di atas kebenaran dalam keadaan menang sampai hari kiamat. Kemudian turun Isa ibnu Maryam Alaihis salam, maka berkatalah pemimpin mereka: “Kemarilah memimpin sholat kami”. Maka ia pun berkata: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian memimpin sebagian yang lain, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.” (HR Muslim).
4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Para Nabi adalah seperti saudara sebapak, ibu mereka berbeda tapi agama mereka satu. Sesungguhnya akulah yang paling berhak dengan Isa Ibnu Maryam karena tidak ada antaraku dan dia seorang nabi pun. Sungguh dia akan turun, maka jika kalian melihatnya kenalilah dia! Dia adalah seorang yang berkulit antara merah dan putih dalam keadaan berpakaian dua kain yang bercelup ja’faran, rambut-nya seperti meneteskan air padahal tidak basah. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi, menggugurkan jizyah, dan mengajak manusia kepada agama Islam. Allah binasakan pada zaman-nya seluruh agama-agama selain Islam. Allah binasakan juga Dajjal. Maka terjadilah keamanan di muka bumi hingga singa-singa merumput bersama dengan unta-unta, macan-macan dengan sapi-sapi, dan serigala-serigala dengan domba-domba, serta anak-anak kecil bermain dengan ular-ular dengan tidak memberikan madharat sedikit pun kepada mereka. Demikianlah berlangsung selam empat puluh tahun, kemudian beliau meninggal dan dishalatkan oleh kaum muslimin.” (HR Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)
5. Hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat yang diantaranya menyebutkan akan turunnya Isa Alaihis salam yaitu hadits Hudzaifah Ibnu Usaid dan lainnya dalam Shahih Muslim dan lain-lain.
Kami tidak memuat seluruh hadits-hadits tentang turunnya Isa Alaihis salam karena terlalu banyaknya. Sebagian riwayat terkandung dalam kisah Dajjal, sebagian lainnya diriwayatkan berkenaan dengan hadits-hadits Imam Mahdi. atau riwayat-riwayat yang khusus menceritakan tentang turunnya Isa Alaihis salam di akhir zaman.
Hadits-hadits tersebut dimuat di hampir seluruh kitab-kitab hadits. Dalam kitab-kitab Shahih terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan lainnya; dalam kitab-kitab sunan seperti Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Sunan Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan lain-lainnya; ataupun dalam musnad-musnad seperti Musnad Imam Ahmad dan lain-lainnya.
Oleh karena itu sama sekali tidak tepat jika dikatakan hadits-hadits tersebut berderajat Ahad, apalagi menyatakan hadits-hadits tersebut tidak bisa dipakai sebagai hujjah, sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok sesat mu’tazilah dan para pengikutnya atau kelompok kafir Qadiyaniyah Ahmadiyah.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Nabi Isa Alaihis salam masih hidup sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kitab Shahih (Bukhari dan Muslim -pen.) Dan akan turun sebagaimana telah tsabit dalam hadits nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Akan turun di tengah kalian Isa bin Maryam Alaihis salam sebagai hakim yang adil dan Imam yang bijaksana. Ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi dan menggugurkan jizyah. (Bukhari Muslim)”. (Majmu’ Fatawa, jilid 4/322)

Aqidah Para Ulama tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam

Diangkatnya Nabi Isa Alaihis salam dan akan turunnya beliau di akhir zaman merupakan aqidah para shahabat, para tabi’in, para ulama serta para imam Ahlus Sunnah sepanjang zaman.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwa Nabi Isa Alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang bijaksana.” (Tafsir Ibnu Katsier, juz 7 hal. 223)
Berkata Shiddiq Hasan Khan: “Hadits-hadits tentang turunnya Isa Alaihis salam sangat banyak. Telah disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani, di antaranya ada 29 hadits antara shahih, hasan dan hadits lemah yang terdukung. Di antaranya ada yang disebut bersama kisah Dajjal, ada pula yang disebut bersama hadits-hadits tentang Imam Mahdi, ditambah lagi atsar-atsar yang diriwayatkan oleh para shahabat yang tentunya memiliki hukum marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ), karena perkara Dajjal bukanlah masalah ijtihad”. Kemudian beliau menyebutkan semua hadits tentang Dajjal. Setelah itu beliau Rahimahullahberkata: “Seluruh apa yang kami nukilkan ini telah mencapai derajat mutawatir sebagaimana dipahami oleh orang-orang yang memiliki ilmu” (Al-Idza’ah, hal. 160, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyratu as-Sa’ah)
Telah ditulis oleh para ulama hadits tentang Isa Alaihis salam, ternyata didapati dari 25 para shahabat dinukil dari mereka oleh 30 tabiin dan dinukil dari tabi’in oleh atba’ut tabi’in lebih banyak lagi.
Berkata Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al‘Adhim Abadiy: “Telah mutawatir berita-berita dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang turunnya Isa Alaihis salam dari langit dengan jasadnya ke bumi ketika telah dekat hari kiamat. Ini merupakan madzhab ahlus sunnah. (Aunul Ma’bud, 11/457)
Berkata Syaikh Ahmad Syakir Rahimahullah: “Turunnya Isa Alaihis salam di akhir zaman adalah perkara yang tidak diperselisihkan sedikit pun oleh kaum muslimin, karena tersebutnya berita-berita yang shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentangnya. Ini perkara yang sudah dimaklumi dalam agama secara aksiomatis, dan tidak beriman orang yang mengingkarinya. (Footnote Tafsir ath-Thabari dengan tahqiq Mahmud Syakir, cet. Daarul Ma’arif, Mesir, juz 6 hal. 460)
Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah: “Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal, dan turunnya Isa Alaihis salam adalah berita-berita yang mutawatir, waka kita wajib beriman dengannya. Jangan tertipu dengan orang-orang yang menyatakan hadits-hadits tersebut adalah hadits ahad, karena mereka adalah orang-orang yang bodoh tentang ilmu ini. Tidak ada di antara mereka yang menelusuri dan meneliti hadits-hadits tersebut dengan jalan-jalannya. Kalau saja ada yang mau menelitinya, niscaya dia akan mendapati hadits-hadits tentang ini mutawatir, sebagaimana telah dipersaksikan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan lain-lainnya.
Sungguh sangat disayangkan munculnya orang-orang yang lancang, terlalu berani berbicara pada perkara-perkara yang bukan pada bidangnya. Apalagi urusannya adalah urusan aqidah dan agama. (Takhrij Syaikh al-Albani terhadap Syarh Aqidah ath-Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, hal. 501)
Para ulama memasukkan masalah turunnya Isa Alaihis salam dalam kitab-kitab aqidah dan prinsip-prinsip sunnah yang mereka susun seperti Abu Ja’far ath-Thahawi Rahimahullahdalam Aqidah ath-Thahawiyah, Abu Bakar Muhammad bin Husein al-Aajurri Rahimahullahdalam asy-Syari’ah dan Imam Ahmad Rahimahullahdalam ushuulus Sunnahnya.
Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’iy Rahimahullah (ahlul hadits dari negeri Yaman): “Hadits-hadits tentang turunnya Isa Alaihis salam dan keluarnya Dajjal menurut para ulama adalah mutawatir. Namun mereka yang menjalani jalannya Jamaluddin, orang Iran yang mengaku afghani, sangat bermudah-mudahan dalam menolak dan mencerca hadits-hadits tersebut atau menyelewengkan maknanya kepada makna lain. Aku peringatkan kepada para penduduk Mesir dan tokoh-tokoh ulama Mesir untuk membersihkan negerinya dari pemikiran-pemikiran liberalis. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’alamemberikan taufiq, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ruduud Ahlul Ilmi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i, hal. 25)
Berkata Qadli ‘Iyad Rahimahullah: “Turunnya Isa Alaihis salam dan dibunuhnya Dajjal olehnya adalah haq dan shahih menurut para ulama ahlus sunnah, karena hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa diingkari dalam syari’at maupun dalam akal yang sehat. Maka Wajib menetapkannya. (Lihat Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 18, hal. 75)

Bantahan terhadap para pengingkar dengan alasan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah penutup para nabi.
Berkata Imam Nawawi Rahimahullah: “Perkara ini telah diingkari oleh sebagian mu’tazilah, aliran Jahmiyah dan orang-orang yang mencocoki mereka dengan menganggap bahwa hadits-hadits ini tertolak dengan ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala: Dan dia adalah penutup para nabi. (al-Ahzaab: 40), Dan dengan ucapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :  Tidak ada nabi setelahku. (HR. Muslim). Dan dengan ijma’ kaum muslimin bahwa tidak ada nabi setelah nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam . Dan bahwasanya syariat Islam ini kekal sampai hari kiamat dan tidak dimansuhkan (tidak dibatalkan).
Ini adalah pendalilan yang rusak, karena tidaklah yang dimaksud dengan turunnya Isa Alaihis salam adalah turun sebagai Rasul yang membawa syariat yang baru, yang memabatalkan syariat kita. Tidak ada dalam hadits-hadits ini maupun yang lainnya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan telah shahih hadits-hadits tersebut dan dalam Kitabul Iman dan lain-lainnya bahwa Nabi Isa Alaihis salam turun sebagai hakim yang adil dengan hukum syariat kita. Dan menghidupkan perkara-perkara syariat-syariat kita yang sudah mulai ditinggalkan oleh manusia. (Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz 18, hal. 278)
Imam adz-Dzahabi Rahimahullah memasukkan Isa Alaihis salam dalam kitabnya Tajridu As-mai ash-Shahabah (tentang nama-nama shahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam), kemudian beliau berkata: “Isa Alaihis salam adalah seorang shahabat dan sekaligus seorang nabi. Karena ia sempat bertemu dan melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pada malam Isra’ dan Mi’raj. Maka beliau adalah shahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang paling terakhir wafatnya. (Tajridu Asmai ash-Shahabah Hal. 432; melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 356)
Berkata Imam al-Qurthubi Rahimahullah: “Suatu kaum berpendapat bahwa dengan turunnya Isa Alaihis salam berarti akan terangkat beban syariat (nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam–pen.), karena Isa Alaihis salam turun sebagai Rasul yang terakhir di zaman tersebut, memerintahkan mereka dengan wahyu dari Allah. maka tentunya yang ini adalah batil dan tertolak karena Allah Subhanahu wa Ta’alamenyatakan bahwa Rasulullah adalah penutup para nabi (dalam Q.S. al-Ahzaab ayat 40). Dan juga terbantah dengan hadits: “Tidak ada nabi setelahku” (Shahih Muslim) dan hadits: “Saya adalah penutup” (Shahih Bukhari). Yang dimaksud adalah beliau Shallallahu alaihi wa sallam adalah nabi terakhir dan penutupnya”.
Oleh karena itu jangan dianggap bahwa Isa Alaihis salam turun sebagai rasul dengan syariat yang baru selain syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Bahkan beliau turun sebagai pengikut Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dikabarkan dalam hadits, ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Umar Radhiyallahu anhu: “Jika saja Isa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikutiku.”
Maka turunnya Isa Alaihis salam dalam keadaan telah mengetahui perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak di langit sebelum turunnya. Yaitu mengetahui ilmu syariat ini untuk menghukumi di antara manusia dan beramal bagi dirinya. Maka berkumpullah orang-orang beriman mengikutinya dan dia menghukumi mereka dengan syariat Islam. (at-Tadzkirah, hal. 67-68, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 360-361).

Bantahan bagi para pengingkar dengan alasan ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 55: Inni Mutawaffiika
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah: “Adapun ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyatakan: “Ketika Allah berfirman kepada Isa: “Aku me”’wafat”kanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta mensucikanmu dari orang-orang kafir… “(Ali Imran: 55), bukanlah berarti mematikan Isa Alaihis salam, karena kalau yang dimaksudkan adalah kematian, maka berarti Isa sama dengan orang-orang mukmin lainnya, yakni dicabutnya ruh mereka dan dibawanya ke langit. Hal ini berarti Nabi Isa tidak memiliki keistimewaan apapun.
Demikian pula ucapan Allah “wa muthahiruka minaladziina kafaru”, kalau ruhnya terpisah dari jasadnya berarti jasadnya tetap di bumi seperti badannya para nabi yang lain…. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 322-323)
Berarti jasadnya tetap disalib dan dihinakan oleh orang-orang kafir, yang tentunya berarti tidak disucikan dari orang-orang kafir dan ini adalah mustahil. Karena Allah dalam ayat di atas menyatakan “Dan Aku mensucikanmu dari orang-orang kafir”.
Bahkan kalimat wafat dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, karena diambil dari kata-kata qaabiduka yang bermakna menggenggam atau mengambil. Maka bisa bermakna mengambil ruh dan jasadnya (seperti Isa Alaihis salam), atau mengambil ruh tanpa jasadnya (yaitu kematian) atau mengambil kesadarannya dalam keadaan ruh dan jasadnya masih di tempatnya (yakni ketika tidur) sebagaimana Allah pergunakan kalimat wafat dalam ayat-ayat berikut:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya …”(az-Zu-mar: 42)
Dan Dialah yang “menidurkan”mu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari… (al-An’aam: 60)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah selanjutnya: “…Oleh karena itu berkata para ulama bahwa makna mutawaffiika adalah qaabidluka (mengambil kamu), yakni mengambil ruh dan jasadmu. Tidak mesti lafadz tuwaffa bermakna mengambil ruh saja tanpa jasad. Tidak mesti pula jasad dengan ruh bersama-sama. Keduanya harus dipahami sesuai dengan konteks kalimatnya. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 323)
Kita katakan: bahwa konteks kalimat dalam ayat tentang Isa Alaihis salam di atas sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut seiring dengan kalimat wafat kalimat raafi’uka yang bermakna mengangkatmu.
Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan makna wafat dalam ayat di atas sebagai berikut: “Yang lebih utama dari pendapat-pendapat ini untuk dikatakan shahih menurut kami adalah ucapan yang berkata bahwa makna mutawaffiika adalah “Aku memegangmu dan mengangkatmu (ruh dan jasadnya) kepada-Ku”, karena mutawatirnya hadits-hadits dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang memberitakan bahwa Isa akan turun dan membunuh Dajjal. (Tafsir ath-Thabari, juz 3, hal. 291)


Referensi:
Bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 66/Th. II, tanggal 10 Jumadi Awwal 1426 H/17 Juni 2005 M
Bulletin Manhaj Salaf, Edisi: 70/Th. II tgl 08 Jumadi tsani 1426 H/15 Juli 2005 M,
Bulletin Manhaj Salaf, Edisi 71/Th. II tgl 15 Jumadi tsani 1426 H/22 Juli 2005 M, j

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel kami. Silahkan berkomentar dengan sopan.